TRANSFORMASI PEMBELAJARAN DI ABAD 21

Pendidikan sebagai layanan belajar merupakan sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun peradaban. Penyelenggaran pendidikan yang berkualitas harus diwujudkan sebagai amanat Undang-Undang, karenanya pemerintah wajib menyediakan layanan pendidikan yang bermutu kepada seluruh rakyat. Pemerintah telah berupaya meningkatkan angka partisipasi dan pemerataan pendidikan. Berbagai program telah dicanangkan misalnya dengan Kartu Indonesia Pintar (KIP), pembaharuan kurikulum, pemberdayaan guru dan penyediaan tenaga pendidik berkompeten, penyediaan buku serta sarana pembelajaran, dan lain-lain. Di dalam Renstra Pendidikan Nasional juga telah menempatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai salah satu pendukung utama tersedianya layanan pendidikan.

Inovasi pendidikan melalui pemanfaatan TIK merupakan konsekuensi logis di era globalisasi seperti saat ini. Implementasi TIK sudah menjadi keharusan karena penerapan TIK dapat menjadi salah satu indikator keberhasilan suatu institusi pendidikan. Hasil penelitian secara nyata membuktikan bahwa penggunaan alat bantu berbasis TIK sangat membantu aktivitas proses belajar mengajar di kelas, terutama peningkatan prestasi belajar peserta didik.

Terkait dengan teknologi berbasis internet, menurut survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2014: 4-5), sebanyak 85% dari total pengguna internet di Indonesia mengakses internet dengan menggunakan mobile phone. Hasil ini ditemukan di setiap kepulauan di Indonesia, baik daerah rural maupun urban Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat pembelian dan penggunaan smartphone di Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan. Sementara bila dilihat dari kategori usia, mobile phone paling tinggi digunakan oleh mereka yang berusia 18-25 tahun, dan 60% di antaranya mengakses internet dari telpon selular. Hal ini mengindikasikan peluang yang sangat baik bagi perkembangan infrastruktur internet lebih baik dan merata di seluruh Indonesia.

Peluang dan potensi tersebut di atas harus direspon dengan sigap oleh para praktisi pendidikan. Apalagi dalam UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), konsep pembelajaran menurut Konsultan Pendidikan di Willi Toisuta and Associates, Yuli Kwartolo, adalah suatu interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (UU No.20 Tahun 2003, Pasal 1). Konsep mengenai pembelajaran ini melahirkan suatu model pembelajaran yang dikenal dengan pembelajaran berbasis aneka sumber. Pembelajaran berbasis aneka sumber memungkinkan siswa belajar dari siapa saja, dari mana saja, tentang apa saja (Yuli Kwartolo, 2010: 16).

Konsep dan Tujuan M-Learning dalam Pembelajaran

Dewasa ini, tidak sedikit guru/dosen yang memanfaatkan kemajuan teknologi dengan mengunakan internet sebagai pembelajaran online atau biasa kita dengar dengan e-learning. Tren baru dalam dunia e-Learning masa kini adalah dikenalnya istilah Mobile Learning (m-learning). Mobile Learning (M-Learning) didefinisikan oleh Clark Quinn (2006) yang dikutip Abdul Majid sebagai: “The intersection of mobile computing and e-learning: accessible resources wherever you are, strong search capabilities, rich interaction, powerful support for effective learning, and performance-based assessment. E-learning independent of location in time or space.”

Atas dasar definisi tersebut maka mobile learning merupakan model pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Pada konsep pembelajaran tersebut mobile learning membawa manfaat ketersediaan materi ajar yang dapat di akses setiap saat dan visualisasi materi yang menarik. Istilah M-Learning merujuk pada penggunaan perangkat genggam (media portable) seperti Smartphone, IPhone, PCTablet, PDA, Ponsel, Laptop dan perangkat teknologi informasi lainnya yang banyak digunakan dalam belajar mengajar.

Dalam kaitan tersebut, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di dalam dunia pendidikan terus berkembang dalam berbagai strategi dan pola, yang pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam sistem e-Learning sebagai bentuk pembelajaran yang memanfaatkan perangkat elektronik dan media digital, maupun m-learning sebagai bentuk pembelajaran yang khusus memanfaatkan perangkat dan teknologi komunikasi bergerak (Abdul Majid, 2012: 1).

Tujuan dari pengembangan m-learning ini adalah proses belajar sepanjang waktu (long life learning), siswa/mahasiswa dapat lebih aktif dalam proses pembelajaran, menghemat waktu karena apabila diterapkan dalam proses belajar maka siswa/mahasiswa tidak perlu harus hadir di kelas hanya untuk mengumpulkan tugas. Tugas tersebut cukup dikirim melalui aplikasi pada mobile phone yang secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas proses belajar itu sendiri. Penggunaan Mobile Learning sebagai penunjang proses belajar mengajar ini dipandang dapat menambah fleksibilitas dalam kegiatan belajar mengajar.

Pergeseran Paradigma Belajar di Abad 21

Untuk itu layanan utama berbasis TIK dalam program pendidikan yang sedang diimplementasikan melalui e-learning dan e-administrasi. Keduanya dirancang untuk peningkatan layanan pendidikan bagi pemangku kepentingan pendidikan, yang juga difokuskan untuk pengembangan profesional guru. Selain itu, Kemdikbud juga menetapkan target peningkatan kompetensi untuk guru inti di bidang rekayasa dan teknologi sebesar 100% dari jumlah guru inti yang ada di akhir tahun 2014 (Kemendikbud, 2010).

Guru juga perlu mengadopsi peran-peran baru sebagai pengguna teknologi (Butcher, 2011). Guru bertanggung jawab untuk menciptakan ruang bagi siswa untuk berkembang menjadi manusia Indonesia yang berkarakter dengan memanfaatkan TIK. Kapasitas guru untuk memanfaatkan TIK secara efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran menjadi krusial (Pustekkom, Kemendikbud 2012 dalam http://yana.staf.upi.edu/2015/10/11/pendidikan-abad-21/).

Melalui TIK tersebut di atas setting tempat, suasana pembelajaran, metode dan strategi pembelajaran, peran guru mengalami perubahan yang signifikan. Konsep mengenai pembelajaran di atas melahirkan suatu model yang disebut Yuli Kwartolo (2010: 6) sebagai pembelajaran yang dikenal dengan pembelajaran berbasis aneka sumber. Pembelajaran Berbasis Aneka Sumber (BEBAS) memungkinkan siswa belajar dari siapa saja, dari mana saja, tentang apa saja. Pembelajaran ini memungkinkan terciptanya suatu situasi pembelajaran yang “hidup” dan menarik. Belajar Berbasis Aneka Sumber (BEBAS) adalah suatu paradigma baru pada lapis pengalaman belajar.

Namun, hal terpenting yang mesti dirubah ialah paradigma lama yang sampai kini masih melingkupi praktik pendidikan kita. Yaitu, pengalaman belajar siswa yang masih memusat pada peran guru (teacher centered learning), seolah-olah tanpa guru tidak terjadi proses pembelajaran.

P21 (Partnership for 21st Century Learning) mengembangkan framework pembelajaran di abad 21 yang menuntut peserta didik untuk memiliki keterampilan, pengetahuan dan kemampuan dibidang teknologi, media dan informasi, keterampilan pembelajaran dan inovasi serta keterampilan hidup dan karir (P21, 2015). Framework ini juga menjelaskan tentang keterampilan, pengetahuan dan keahlian yang harus dikuasai agar siswa dapat sukses dalam kehidupan dan pekerjaanya (http://yana.staf.upi.edu/2015/10/11/pendidikan-abad-21/).

Sejalan dengan hal itu, Kemdikbud merumuskan bahwa paradigma pembelajaran abad 21 menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerjasama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah (Litbang Kemdikbud, 2013). Untuk menghadapi pembelajaran di abad 21, setiap orang harus memiliki keterampilan berpikir kritis, pengetahuan dan kemampuan literasi digital, literasi informasi, literasi media dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi (Frydenberg & Andone, 2011 dalam http://yana.staf.upi.edu/2015/10/11/pendidikan-abad-21/).

Itulah sebabnya, pendekatan dalam kurikulum 2013 diarahkan pada pembelajaran saintifik dengan 5 M [Mengamati (Observing), Menanya (Questioning), Mengumpulkan informasi/mencoba (Experimenting), Menalar/Mengasosiasi (Associating), dan Mengomunikasikan (Communicating)] sebagai karakteristik dominan dalam proses dan metodenya belajar peserta didik. Dengan demikian, diharapkan tahap perkembangan anak dapat terpupuk dan terkondisi secara baik dan optimal. Pada gilirannya nanti membentuk jiwa anak yang cerdas di bidang intektual dan emosional serta berkarakter (akhlak) terpuji.

Bentuk-bentuk pemanfataan teknologi informasi lainnya yang berkontribusi dalam menyiapkan pembelajaran abad 21 adalah pemanfaatan MOOCs (Goto, Batchelor, & Lautenbach, 2015), pembelajaran berbasis video game (Nino & Evans, 2015), pemanfaatan e-learning baik itu menggunakan LMS (learning management system) atau aplikasi pembelajaran lainnya (Tamimudin H, 2013), dan pemanfaatan mobile learning sebagai media pembelajaran dalam 5 kompetensi inti pembelajaran abad 21 (Lai & Hwang, 2014) (http://yana.staf.upi.edu/2015/10/11/pendidikan-abad-21/).

Sumber Bacaan Acuan:

-Admin. 2015. “Pendidikan Abad 21” dalam http://yana.staf.upi.edu/2015/10/11/pendidikan-abad-21/, diakses pada tanggal 31/1/2016, jam 07.10 WIB.
-Majid, Abdul. 2012. “Mobile Learning”, Makalah Prodi Pengembangan Kurikulum, Sekolah Pascasarjana (S3) UPI Bandung.
-Kwartolo, Yuli. 2010. “Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Proses Pembelajaran”. Jurnal Pendidikan Penabur. No.14/Tahun ke-9/Juni 2010.
-Puskakom UI dan APJII. 2015. Profil Pengguna Internet Indonesia 2014. Jakarta: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.
-Pustekkom. 2012. “Naskah Akademik Kerangka Kerja Kompetensi TIK untuk Guru”. Jakarta: Kemendikbud.
-Saputra, Andri., dkk. 2013. “Pengantar Teknologi Pendidikan”, dalam http://romidwisyahri95.blogspot.com, diakses tanggal 7/1/2016, jam 21:57 WIB.
-Ulansari, Lyna Ukti, dkk. 2015. “Inovasi Sekolah Berbasis Teknologi Informasi dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Kejuruan (Studi Pada Sekolah Menengah Kejuruan PGRI 3 Malang)”. Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 3, No. 11.

 

 

Iklan

BERJEJARING MELALUI BLOG DALAM PEMBELAJARAN INTERAKTIF

Pada hakikatnya, teknologi informasi (TI) adalah proses untuk mendapatkan nilai tambah (added value). Dalam proses pembelajaran, penggunaan TI sangat membantu guru malaksanakan tugasnya. Di sisi lain dalam penyampaian menggunakan media, maka guru dapat menambah kemampuan untuk lebih kreatif dan produktif serta merubah orientasi kegiatan belajar mengajar dari guru sebagai sumber belajar ke arah orientasi belajar siswa aktif, dengan mencari informasi berbabagi sumber media dan memanfaatkan teknologi yang tersedia.

Dalam penelitian mengenai profil pengguna internet di Indonesia tahun 2012, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan penetrasi pengguna internet di Indonesia adalah 24,23% (APJII, 2012). Selanjutnya survey di tahun 2014 menunjukkan penetrasi pengguna internet di Indonesia adalah 34.9%. Hal ini menunjukkan penggunaan internet di Indonesia terus meningkat. Masih menurut survey tersebut, jumlah pengguna internet di Indonesia tahun mencapai 88 juta orang hingga akhir tahun 2014. Berdasarkan populasi, jumlah pengguna Internet terbanyak adalah di provinsi Jawa Barat sebanyak 16.4 juta, diikuti oleh Jawa Timur 12.1 juta pengguna dan Jawa Tengah 10.7 juta pengguna.

Dengan penetrasi internet yang semakin pesat, mau tidak mau seorang guru harus mempunyai alternatif pembelajaran kepada peserta didiknya. Hasil penelitian APJII mengkonfirmasi bahwa secara total mayoritas pengguna internet adalah kalangan usia 15-25 tahun (50%) dan yang menggunakan internet melalui telpon selular sebanyak 60% di usia (18-25 tahun). Fakta ini diperkuat dengan perkembangan telpon seluler dan smartphone yang menyediakan beragam fitur aplikasi media sosial (Social Media), antara lain facebook, instagram, twitter, LinkedIn, dan lain-lain.

Media Sosial dan Sejarah Ringkas WeBlog

Jika kita mencari definisi media sosial di mesin pencari Google, dengan mengetikkan kata kunci “social media meaning”, maka Google menampilkan pengertian media sosial sebagai “websites and applications used for social networking” –website dan aplikasi yang digunakan untuk jejaring sosial. Maksudnya adalah saluran atau sarana pergaulan sosial secara online di dunia maya (internet). Para pengguna (user) media sosial berkomunikasi, berinteraksi, saling kirim pesan, dan saling berbagi (sharing), dan membangun jaringan (networking).

Blog adalah kependekan dari Weblog, istilah yang pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada bulan Desember 1997. Dalam literatur online disebutkan, “On Dec. 17, 1997, Jorn Barger became the first person to use the term “weblog” to describe his collection of links logged from the internet.” Jorn Barger menggunakan istilah Weblog untuk menyebut kelompok website pribadi yang selalu diupdate secara kontinyu dan berisi link-link ke website lain yang mereka anggap menarik disertai dengan komentar-komentar mereka sendiri (http://www.romelteamedia.com/2014/08/sejarah-blog-penemu-istilah-dan-blogger.html)

Namun, “status” Barger sebagai blogger pertama “gugur” dengan ditemukannya fakta bahwa sebelumnya, pada Januari 1994, seorang mahasiswa yang kemudian jadi wartawan Amerika, Justin Hall, membuat website pribadi “Justin’s Home Page” yang kemudian berubah menjadi “Links from the Underground”. Kreativitasnya itu membuat Hall dikenal sebagai perintis blogger (pioneer blogger). Saat menjadi mahasiswa Swarthmore College, Justin membuat website pribadi “Justin’s Links from the Underground” yang berisikan daftar link.  Pada Desember 2004, New York Times Magazine menjuluki Justin Hall sebagai “pendiri blog pribadi” (the founding father of personal blogging). Bisa dikatakan, sebagai “kompromi”: Jorn Barger adalah penemu istilah blog dan Justin Hall merupakan blogger pertama.

Secara garis besar, Weblog dapat dirangkum sebagai kumpulan website pribadi yang memungkinkan para pembuatnya menampilkan berbagai jenis isi pada web dengan mudah, seperti karya tulis, kumpulan link internet, dokumen-dokumen (file-file Word,PDF,dll), gambar ataupun multimedia. Para pembuat blog dinamakan Blogger. Istilah blog dipopulerkan oleh Peter Merholtz tahun 1998. Pendiri Open Diary yang merupakan diary online para penulis di seluruh dunia yang kemudian juga memiliki layanan blog. Open Diary juga memberikan kontribusi besar dalam sejarah weblog dan blogging. Blog kian populer ketika Pyra Labs menghadirkan platform blog Blogger pada Juli 1999 yang diakuisisi oleh Google akhir tahun 2002. Setelah kemunculan Blogger, penyedia blog gratis lainnya bermunculan hingga saat ini, termasuk WordPress (http://www.romelteamedia.com).

Melalui Blognya, kepribadian Blogger menjadi mudah dikenali berdasarkan topik apa yang disukai, apa tanggapan terhadap link-link yang di pilih dan isu-isu didalamnya. Oleh karena itu Blog bersifat sangat personal. Perkembangan lain dari Blog, yaitu ketika Blog memuat tulisan tentang apa yang seorang Blogger pikirkan, rasakan, hingga apa yang dia lakukan sehari-hari. Blog kemudian juga menjadi Diary Online yang berada di Internet. Satu-satunya hal yang membedakan Blog dari Diary atau Jurnal yang biasa kita miliki adalah bahwa Blog dibuat untuk dibaca orang lain.

Saat media sosial seperti Facebook dan Twitter hadir, blog tetap bertahan. Bahkan, belakangan ini banyak portal berita (news portal) atau situs berita menggunakan blog sebagai basis pembuatan situsnya, berkat fasilitas “Custom Domain” yang disediakan blogger (http://www.romelteamedia.com).

Pemanfaatan Blog dalam Pembelajaran

Salah satu jenis media sosial yang populer dan dapat digunakan dalam pembelajaran adalah “blog”, yang telah berkembang pesat dan menjadi tren untuk pembelajaran berbasis blog. Ada beberapa kelebihan dari blog untuk di mamfaatkan sebagai media E-learning, yaitu: Pertama, pembuatan blog sangat mudah (mudah dipelajari); kedua, pengelolaan untuk update tulisan, materi, hapus dan sebagainya sangat mudah;  ketiga, tersedia gratis (wordpress, multiply.com, blgspot.com); dan keempat, mempunyai fasilitas mendekati Moodle. Menurut Dr. R. Teduh Dirgahayu dalam perkuliahan Teknologi Informasi Pembelajaran (4/1/2016), manfaat blog dapat memungkinkan penerapan pembelajaran secara mandiri, informal, kolaboratif, meningkatkan keterampilan komunikasi, membaca dan menulis, serta keterampilan berpikir dan refleksi.

Pandangan tersebut didasarkan pada artikelnya Silvia Tolisano yang berjudul “Blogging as Pedagogy: Facilitate Learning” (http://langwitches.org/blog/2014/06/03/blogging-as-pedagogy-facilitate-learning, June, 3 2014).  Hal ini dikarenakan area pembelajaran berbasis blog meliputi empat domain utama, yaitu: 1) Membaca (reading), 2) Menulis (writing), 3) Refleksi (reflecting), dan 4) Berbagi (sharing).

Dengan demikian, dalam pemanfaatan pembelajaran berbasis blog, guru harus juga terlibat dalam penyediaan konten yang bermanfaat dan up to date. Peran guru dalam membangun kultur pembelajaran melaui blog sangatlah penting. Motivasi setiap siswa untuk menuangkan gagasannya melalui blog tidaklah terlepas dari dukungan guru sebagai pengajar. Guru juga dapat mengarahkan diskusi dan komentar-komentar tentang materi atau tulisan yang sudah dibuat oleh para siswanya. Selain itu, guru juga dapat menyampaikan materi atau tugas melalui blog sehingga memudahkan penyebaran informasi.

Pemanfaatan media blog mestinya tidak hanya aksidental ketika ada kegiatan yang menghambat terjadinya interaksi langsung guru dan peserta didik di sekolah. Dalam lingkup Sekolah Menengah Kejuruan, biasanya ada program kegiatan prakerin (praktek kerja industri) atau PKL yang dilakukan siswa kelas XI. Siswa yang sedang prakerin tetap mendapatkan materi dan tugas terstruktur dari guru, padahal siswa yang prakerin biasanya tersebar di beberapa daerah yang lokasinya jauh dari sekolah. Beberapa kendala misalnya, untuk mengumpulkan tugas-tugas saja harus on the spot datang ke sekolah menemui guru. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan media pembelajaran elektronik berbasis blog untuk kemudahan peserta prakerin.

Blog memberikan sebuah peluang agar kegiatan belajar lebih menarik dan interaktif. Melalui blog, sumber-sumber materi yang relevan dapat dipublikasikan ke seluruh penjuru sehingga bisa diakses oleh siapa pun. Dengan begitu, kesulitan siswa dalam mengumpulkan sumber-sumber informasi yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran dapat diatasi. Sehingga tidak berlebihan kiranya, blog merupakan salah satu media pembelajaran yang strategis untuk meningkatkan proses pembelajaran yang aktif dan interaktif.