LMS Berbasis Moodle sebagai Media E-Learning di Sekolah

Oleh: A. Amali Kurniawan

Di dunia pendidikan dan pelatihan sekarang, banyak sekali praktik yang disebut e-learning. Penggunaan e-learning di dunia akademis di Indonesia telah digunakan secara luas dan massif. Misalnya Universitas Terbuka (UT) yang menyediakan beberapa tutorial online, Institut Teknologi Bandung (ITB) telah menawarkan sejumlah pelajaran online melalui Open Learning System (OLSys). Universitas Petra, UGM, UBINUS, dan Universitas Pelita Harapan juga telah memberikan pula beberapa pelajaran dalam bentuk e-learning (Effendi & Hartono, 2005: 5-6). Contoh lainnya, di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, e-learning diterapkan kuliah online melalui Klasiber, yaitu sistem e-learning UII sebagai portal akademik utama bagi mahasiswa. Klasiber mulai digunakan di tingkat universitas sejak tahun 2005 dengan memanfaatkan Moodle (perangkat lunak e-learning open-source) yang sudah mengalami banyak pengembangan hingga sekarang.

Kemendiknas dengan diprakarsai Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) sudah mengembangkan dan menyiapkan e-learning dengan membangun wireless area network (WAN) sebagai jaringan luas di sekolah-sekolah tertentu sekitar ICT Center. Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (Pustekkom) Depdiknas mengeluarkan beberapa mata pelajaran yang berbentuk multimedia, yang ditujukan terutama untuk pelajar SMU dan sederajat. Pustekkom telah meluncurkan e-dukasi.net yang bermaksud memberikan materi pelajaran bagi siswa dan guru secara gratis (Effendi & Hartono, 2005: 6). Untuk mengintegrasikan kedua program tersebut agar terbentuk sebuah jaringan yang menghubungkan semua sekolah di Indonesia diluncurkan program Jardiknas (Jejaring Pendidikan Nasional). Sehingga diperkirakan di masa depan semua sekolah di Indonesia akan terkoneksi dengan internet. Melihat program pengembangan yang dilakukan Depdikbud hingga saat ini kita bisa memanfaatkan fasilitas tersebut karena bersifat terbuka.

Konsep e-Learning, LMS, dan Blended Learning

Banyak istilah yang memiliki arti yang hampir sama dengan e-learning, di antaranya: Web-based learning, online learning, computer-based trainin/learning, distance learning, computer aided instruction, dan lain sebagainya. Terminologi e-learning sendiri dapat mengacu pada semua kegiatan pelatihan/pembelajaran yang menggunakan media elektronik atau teknologi informasi.

LMS (Learning Managemen System) merupakan salah satu aplikasi e-learning berbasis web yang fokus perhatiannya ada pada perolehan resources (konten/materi pembelajaran), baik pada jadwal perolehan, sumber resources, maupun tata cara perolehannya. Menurut sebuah situs (http://www.e-learningconsulting.com/products/learning-management-system.html) LMS adalah sebuah perangkat lunak yang mengelola administrasi, dokumentasi, pelacakan, dan pelaporan program-program pelatihan, kelas dan kegiatan onlinee-learning program, dan isi pelatih. Menurut Wahono, LMS atau platform e-Learning atau Learning Content Management System (LCMS) adalah aplikasi yang mengotomasi dan mem-virtualisasi proses belajar mengajar secara elektronik (http://romisatriawahono.net).

LMS sebagai salah satu perangkat media untuk berinovasi dalam pembelajaran dikenal sebagai Blended e-Learning. Secara sederhana, konsep Blended Learning ialah pencampuran model pembelajaran konvensional dengan belajar secara online. Teori belajar yang digunakan pun terdiri atas berbagai teori belajar dari beberapa ahli dengan menyesuaikan situasi dan kondisi belajar peserta didik. Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanya berfungsi sebagai mediator, fasilitor  dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. Blended Learning ini akan memperkuat model belajar konvensional melalui pengembangan teknologi pendidikan.

Urgensi Pemanfaatan LMS  di Lingkup Sekolah

Penggunaan LMS dalam praktik pendidikan, khususnya pada satuan pendidikan menengah sangat banyak manfaatnya, di antaranya adalah menyediakan akses langsung, mengurangi biaya pengiriman per course, menghemat waktu bekerja, dan memberikan pelatihan yang lebih konsisten. Melalui pemanfaatan LMS, apabila memiliki banyak materi pelajaran e-learning, kita tidak perlu meletakkannya pada layar desktop komputer dalam bentuk icon. Dengan LMS sebagai sistem yang mengatur e-learning content atau mata pelajaran e-learning, maka proses pembelajaran dapat dilakukan secara lebih efektif. LMS inilah yang berperan banyak dalam membantu administrasi kegiatan pelatihan (belajar-mengajar) yang menerapkan e-learning. Begitu pentingnya hingga John Chambers, CEO dari Cisco System, menyatakan: “If course content is king, then infrastructure (LMS) is god” (Effendi & Hartono, 2005: 6).

Dalam suatu sesi kuliah Teknologi Informasi Pembelajaran bersama mahasiswa konsentrasi Supervisi Pendidikan Agama Islam PPs MSI UII (2/11/2015), Dr. R. Teduh Dirgahayu menjelaskan, pelaksanaan pembelajaran LMS tipe Blended e-Learning tidak terbatas di satu sekolah dan di dalam ruang kelas. Sekolah berfokus pada aktivitas sosialisasi dan peserta didik dapat mengulang pelajaran dengan kecepatan masing-masing. Namun e-learning dengan spesifikasi ini perlu keterlibatan dan supervisi orang tua. Melalui LMS secara baik dan intensif, peserta didik dapat melihat nilai tugas dan tes serta peringkatnya berdasarkan nilai tugas maupun tes yang diperoleh. Selain itu, pelajar dapat melihat modul-modul yang ditawarkan, mengambil tugas-tugas dan tes-tes yang harus dikerjakan, serta melihat jadwal diskusi secara maya dengan instruktur, narasumber lain, dan siswa lain.

Untuk mengembangkan e-Learning, saat ini telah tersedia banyak LMS, baik yang komersial ataupun yang bersifat Open Source (gratis). Beberapa LMS yang komersial adalah ANGEL Learning, Apex Learning, Blackboard, Desire2Learn, eCollege, IntraLearn, Learn.com, Meridian KSI, NetDimensions_EKP, Open Learning Environment (OLE), Saba Software, SAP Enterprise Learning, dan lainnya. Contoh LMS yang bersifat Open Source adalah Atutor, Claroline, Dokeos, dotLRN, eFront, Fle3, Freestyle Learning, ILIAS, KEWL.nextgen, LON-CAPA, MOODLE, OLAT, OpenACS, OpenUSS, Sakai, Spaghetti Learning, dan lainnya.
Secara umum, LMS menyediakan fitur standar untuk e-learning, di antaranya: (1) Fitur untuk materi pembelajaran, meliputi daftar pelajaran dan kategorinya, silabus, materi pelajaran (berbasis teks atau multimedia), serta bahan pustaka; (2) Fitur untuk diskusi dan komunikasi, meliputi forum diskusi (mailing list), instant messenger, pengumuman, profil dan kontak instruktur, serta File and Directory Sharing; dan (3) Fitur untuk ujian dan tugas, meliputi ujian (exam), tugas (assignment), dan penilaian.

Sebagaimana disinggung terdahulu, LMS tersedia dalam berbagai macam pilihan penyedia layanan. Untuk memanfaatkan LMS di sekolah dapat menggunakan vendor yang menyedikan engine untuk membuat sebuah website E-learning, salah satunya adalah Moodle (Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment). Moodle adalah paket perangkat lunak yang diproduksi untuk kegiatan belajar berbasis internet dan situs yang menggunakan prinsip social constructionist pedagogy. Moodle merupakan salah satu LMS open source yang dapat diperoleh secara bebas melalui http://moodlecloud.com. Sebagai portal e-learning, Moodlecloud dapat dengan mudah dipakai untuk mengembangkan sistem e-learning dan dimodifikasi sesuai kebutuhan. Menurut salah satu sumber, di Indonesia terdapat lebih dari 594 situs e-learning yang dikembangkan dengan Moodle.

Namun demikian, salah seorang Wisyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jateng, Abimanyu mengkritisi penerapan e-learning (LMS) berbasis moodle di sekolah. Menurutnya, ada beberapa kelemahan dari moodle yang mungkin membuat perkembangan website E-learning agak kurang. Banyak pembuatan E-learning berbasis moodle hanya sampai pada tahap sebuah website tersebut online. Tetapi dengan segudang fasilitas yang dimiliki moodle, pengelola tidak mampu untuk meng-update isi dari pembelajaran. Moodle mungkin cocok untuk seorang dosen atau instruktur dengan kemampuan TIK tingkat menengah ke atas. Akan tetapi, bagi seorang guru mata pelajaran bukan TIK, untuk mempelajari cara kerja moodle akan kesulitan. sehingga nantinya jangankan untuk mengisi dengan berbagai materi pembelajaran untuk mengelola saja seorang guru sudah sangat kesulitan (http://www.lpmpjateng.go.id/).

Meski demikian, sebetulnya banyak cara mudah yang ditawarkan berbagai referensi/situs untuk memanfaatkan LMS berbasis moodle di sekolah, antara lain dengan langkah praktis dari http://www.umboh.org/2012/06/cara-membuat-website-sekolah-dengan.html. Dalam upaya implementasi LMS berbasis Moodle di sekolah secara efektif diperlukan komitmen, perencanaan yang matang, anggaran yang memadai, dan dukungan manajemen, infrastruktur serta segenap warga sekolah. Dan yang tidak kalah penting ialah pembinaan dan peningkatan soft skill Guru di bidang TIK, khususnya aplikasi e-learning dengan moodle. Di samping itu, peserta didik dan orang tua/wali siswa pun harus diberikan orientasi dan pemahaman khusus terkait dengan renacana ini sebagai tanggapan terhadap potensi pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran. Semoga bermanfaat.

Iklan

4 pemikiran pada “LMS Berbasis Moodle sebagai Media E-Learning di Sekolah

    1. Makasih pak Suroto… Di tingkat mhs spt kita aja perlu mempelajarinya secara detail. Klo di Amerika dan negara2 Eropa yang sudah maju barangkali pembelajaran e-learning sdh membudaya sejak usia SD, tapi klo di negeri kita, dukungan sistem perundang-undangannya tdk mengatur pembelajaran jarak-jauh, aplg di tingkat sekolah dasar dan menengah. Akan tetapi, sbg wujud respon positif kita thd manfaat TI, pembelajaran berbasis moodle bisa diterapkan di tingkat SMA/SMK…dengan catatan semua infrastruktur, biaya dan sumber dayanya memenuhi syarat.

  1. untuk pembelajaran di tingkat menengah saya sangat setuju apabila dilakukan dengan model online, tetapi untuk tingkat dasar dimasa pertumbuhan saya sebagai orangtua lebih menyukai pembelajaran dengan minim penggunaan internet maupun mobile learning menggunakan hardware model apapau, karena mata anak-anak masih dalam pertumbuhan dan terlalu fokus pada layar komputer maupun smartphone dapat menganggu penglihatannya, kemudian belum adanya proteksi jaringan internet dinegeri ini pada situs-situs yang mengandung unsur pornografi dan narkotika maka perlu meminimalisir penggunaan internet pada kalangan anak-anak.
    Eskawati NIM 14913123

  2. Setuju…betul sekali bu Eska. Klo bicara soal pengalaman dgn anak (menjadi ortu), saya angkat tangan deh..kalah jauh, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s