Model Pembelajaran TGT

Proses belajar-mengajar (Pembelajaran) di era global memungkinkan kegiatannya berlangsung di mana saja dan kapan saja. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Menurut Ngalim Purwanto (1992 : 84), belajar merupakan setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.

Berkembangnya potensi peserta didik sangat dipengaruhi oleh guru sebagai pendidik yang professional. Guru memegang peran utama dalam rangka implementasi fungsi dan upaya mencapai tujuan nasional. Untuk melaksanakan tugas utamanya, guru harus memiliki banyak variasi metode dan strategi dalam penyampaian materi di sekolah. Dalam pembelajaran di era digital seperti saat ini, guru dituntut dapat memanfaatkan kelebihan TIK dalam mengolah informasi (materi) sekaligus juga mempermudah transmisi pengetahuan kepada peserta didik, karena itu dikembangkanlah pembelajaran berbasis game.

Dalam tulisan sederhana ini tidak menjelaskan pembelajaran berbasis game (dalam pengertian pemanfaatan TIK), namun akan dipaparkan salah satu variasi model dalam mengajar yang dapat meningkatkan motivasi dan perhatian peserta didik. Model ini dalam pembelajaran kooperatif (Cooperatif Learning) dikenal dengan Teams Games Tournament (TGT).

TGT merupakan salah satu tipe atau model pembelajaran yang melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.

Metode TGT dikembangkan pertama kali oleh David De Vries dan Keith Edward. Metode TGT merupakan metode pembelajaran pertama dari John Hopkins (Slavin, 2008:13). Metode ini merupakan suatu pendekatan kerja sama antarkelompok dengan mengembangkan kerja sama antarpersonal. Dalam pembelajaran ini terdapat penggunaan teknik permainan. Permainan ini mengandung persaingan menurut aturan-aturan yang telah ditentukan. Dalam permainan diharapkan tiap-tiap kelompok dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk bersaing agar memperoleh suatu kemenangan. Menggunakan TGT di kelas membantu guru untuk meningkatkan pemahamandan motivasi di antara murid-murid, yang diharapkan menghasilkan peningkatan motivasi dan prestasi jangka panjang

Pembelajaran kooperatif dengan metode TGT ini memiliki kesamaan dengan metode STAD dalam pembentukan kelompok dan penyampaian materi tetapi menggantikan kuis dengan turnamen dimana siswa memainkan game akademik dengan anggota lain untuk meyumbangkan poin bagi skor timnya (Slavin, 2008: 13). Beberapa keuntungan dari teknik permainan dalam situasi belajar kelompok, yakni bermanfaat khususnya untuk mengajarkan aspek-aspek kognitif tingkat tinggi seperti analisis, dengan adanya persaingan untuk mendapatkan kemenangan maka akan menimbulkan motivasi yang kuat bagi siswa, dan dengan teknik permainan ini terbentuk suatu situasi belajar yang menyenangkan yang tentu saja sangat mempengaruhi tingkat konsentrasi, kecepatan menyerap materi pelajaran, jumlah pelajaran dan kematangan pemahamannya.

Terdapat lima komponen dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. (Slavin, 2008 :161).

  • Pertama, presentasi kelas atau pengamatan langsung. Presentasi kelas digunakan guru untuk memperkenalkan materi pelajaran dengan pengajaran langsung atau diskusi ataupun presentasi audio-visual. Guru membagi kelompok siswa serta menyebutkan konsep-konsep yang harus dipelajari, memberikan cerita singkat untuk pendahuluan mengenai materi yang akan diajarkan dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan presentasi kelas dengan pengajaran biasa hanyalah bahwa presentasi tersebut haruslah benar-benar berfokus pada unit TGT. Dengan cara ini, para siswa akan menyadari bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian penuh selama presentasi kelas, karena dengan demikian akan sangat membantu mereka menjawab soal–soal pada saat kompetisi dalam permainan.
  • Kedua, dalam pembelajaran TGT adalah belajar tim. Tim terdiri dari empat atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras dan etnisitas. Fungsi utama dari tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, dan lebih khususnya lagi, adalah untuk mempersiapkan anggotanya untuk dapatmenjawab soal pada saat permainan dengan baik. Setelah guru menyampaikan materinya, tim berkumpul untuk mempelajari lembar-kegiatan atau meteri lainnya. Pembelajaran tim sering melibatkan pembahasan permasalahan bersama, membandingkan jawaban, dan mengoreksi tiap kesalahan pemahaman apabila anggota tim ada yang membuat kesalahan. Pada metode TGT ini, poin penting yang perlu ditekankan adalah membuat anggota tim melakukan yang terbaik untuk membantu tiap anggotanya.
  • Ketiga, adalah permainan. Permainan disusun untuk menguji pengetahuan yang dicapai siswa dan biasanya disusun dalam pertanyaan -pertanyaan yang relevan dengan materi dalam presentasi kelas dan latihan lain. Permainan dalam pembelajaran koopertaif metode TGT dapat berupa permainan yang mudah dan banyak dikenal. Dalam penelitian ini permainan yang digunakan adalah Roda Impian (Wheel of Fortune).
  • Keempat, dalam pembelajaran TGT adalah pertandingan atau turnamen. Tournament adalah sebuah struktur dimana permainan berlangsung. Biasanya berlangsung pada akhir minggu atau akhir unit, setelah guru memberikan presentasi di kelas dan tim telah melaksanakan kerja kelompok terhadap lembar kegiatan. Dalam tournament masing-masing siswa mewakili tim yang berbeda. Kompetisi yang seimbang ini memungkinkan para siswa dari semua tingkat kinerja sebelumnya berkontribusi secara maksimal terhadap skor tim mereka, jika mereka melakukan yang terbaik. Setelah tournament selesai maka dilakukan penilaian.
  • Komponen terakhir dalam pembelajaran TGT adalah penghargaan tim. Gunakan imajinasi, kreativitas, dan variasikan penghargaan dari waktu ke waktu. Hal yang lebih penting adalah dapat menyenangkan para siswa atas prestasi yang mereka buat daripada sekedar memberikan hadiah besar.

(Dikutip dari berbagai sumber)

Pembelajaran via Facebook Group (Group FB)

Akhir tahun 2015 lalu, perusahaan riset pasar e-Marketer menampilkan sebuah laporan tentang pengguna Facebook yang mengakses melalui mobile phone di seluruh dunia. Menurut laporan tersebut, jumlah pengguna yang mengakses Facebook melalui mobile phone mencapai hampir satu miliar. Angka tersebut mengalami kenaikan signifikan dari tahun lalu yang mencapai 860 juta pengguna di seluruh dunia.

Menariknya, Indonesia menjadi negara yang mengalami kenaikan penetrasi pengguna tertinggi dari sekian banyak negara yang mengakses Facebook melalui mobile phone. Indonesia memang masih berada di peringkat ketiga negara dengan jumlah pengguna Facebook terbanyak di dunia, di belakang Amerika Serikat dan India. Namun, negara kepulauan ini memiliki penetrasi pengguna Facebook via mobile phone tertinggi di dunia, yakni mencapai 88,1 persen di tahun 2014 dan akan naik menjadi 92,4 persen di tahun ini. (Laporan eMarketer bisa dilihat di sini)

Berdasarkan data tersebut Media social (Social Networking Sites/ SNS) Facebook (FB) adalah media sosial (medsos) yang paling popular di seluruh dunia. Tercatat media sosial ini dikunjungi lebih dari 900 juta pengunjung tiap bulannya. Di Amerika Serikat, Facebook adalah SNS yang paling popular di kalangan anak muda, pelajar dan mahasiswa. Sementara itu, Indonesia memiliki jumlah pengguna terbesar ke-4 di dunia. Dengan popularitas dan potensi ini, jejaring sosial (medsos) Facebook mulai banyak dipergunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran.

Salah seorang dosen di Fakultas Bahasa Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA), Hartono, S.S., M.Pd. melakukan penelitian tentang Manfaat media sosial Facebook dalam pembelajaran khususnya pembelajaran Bahasa Inggris. Penelitian yang dilakukan dari tahun 2012/2013 dan dilanjutkan pada tahun 2013/2014 tersebut menyimpulkan laporan bahwa: (1) Penggunaan Facebook dalam pembelajaran dapat meningkatkan tingkat interaksi antara mahasiswa dan mahasiswa, serta antara mahasiswa dan dosen; (2) Penggunaan media ini juga menjadikan mahasiswa memiliki kesempatan lebih banyak untuk menggunakan bahasa target. Banyak mahasiswa yang biasanya diam saja saat proses  pembelajaran di kelas, ternyata bisa sangat aktif berpartisipasi dalam diskusi di Facebook yang dikelola dalam Facebook group; (3) Diskusi di Facebook group ini akan manjadikan mahasiswa terpapar (exposed) dengan bahasa target sehingga sesuai dengan teori input (input hypothesis) dari Krashen, pemerolehan bahasa (language acquisition) akan terjadi.

Sesuai dengan temuan penelitian di atas, ada satu media pembelajaran yang juga telah sering digunakan dan diterapkan di sekolah, yaitu Pembelajaran Terpadu berbasis Grup Facebook (Groups Facebook). Selain penelitian tersebut saat ini sudah banyak yang meneliti tentang pemanfaatan media sosial FB dalam pembelajaran, salah satunya bisa dicek di sini.

Secara teknis, Groups FB mirip dengan mailing list atau forum diskusi lain misalnya Google Groups atau YahooGroups. Bedanya, anggota sebuah Groups FB harus memiliki akun Facebook dan telah menjadi teman dari host atau pemilik Groups.

Dikutip dari Hari Wibawanto, ada beberapa fasilitas di dalam Groups FB, yakni:

  • Penulisan pesan, yakni fasilitas untuk menuliskan pesan-pesan pendek yang bisa digunakan sebagai sarana untuk menuliskan informasi tertentu kepada anggota grup. Informasi yang dituliskan akan diterima oleh seluruh anggota grup. Selain informasi berupa teks polos (plain text), dapat dibuat juga tautan ke alamat web, sehingga dapat digunakan untuk menginformasikan keberadaan dokumen atau file terkait pembelajaran yang ditempatkan pada situs tertentu. Dalam pembelajaran terpadu Pengantar Teknologi Informasi, fasilitas ini digunakan untuk memberitahukan adanya dokumen pembelajaran yang dipublikasikan pada satu blog, menawarkan dan mengumumkan penggantian jadwal kuliah, dan informasi-informasi terkait aktivitas pembelajaran lainnya.
  • Penambahan file, yakni fasilitas untuk menambahkan dan membagikan (to share) file kepada anggota grup. Ada tiga cara penambahan file, yakni: (a) Membuat atau menuliskan dokumen baru langsung pada kotak penulisan dokumen; (b). Mengunggah (upload) file dari komputer ke repositori dalam Facebook; (c). Membagikan file yang telah tersimpan dalam repositori Dropbox. Ketiga cara penambahan file tersebut dapat digunakan untuk membuat dan membagikan bahan ajar. Selain memberi fasilitas penyimpanan file dan membagikannya, FB memberikan fasilitas penghubung ke repositori dalam Dropbox, sehingga anggota grup dapat melihat dan mengunduh file yang disimpan dalam Dropbox.
  • Pengiriman foto atau video, yakni fasilitas untuk mengirimkan foto atau video kepada anggota grup.
  • Pembuatan acara, yakni fasilitas untuk membuat agenda acara dan mengumumkannya kepada seluruh anggota grup sehingga masing-masing anggota mendapatkan pemberitahuan dan pengingatan (reminder) akan adanya acara yang bisa mereka ikuti.

Selain fasilitas-fasilitas tersebut, FB juga menyediakan fasilitas untuk ‘menulis’ di fitur Notes (Catatan) yang penggunaannya mirip dengan menulis di blogatau lebih tepatnya seperti menulis e-mail. Di samping itu juga ada fasilitas chat atau percakapan dengan perantaraan teks yang bisa dimanfaatkan oleh anggota grup bila menghendaki komunikasi secara sinkron dengan sesama anggota grup, dalam hal ini antar siswa/mahasiswa  atau antara siswa/mahasiswa dengan guru/dosen.

Marilah kita mulai memanfaatkan facebook sebagai salah satu sarana penunjang pembelajaran di luar kelas sebagai langkah positif dan antisipatif terhadap dampak yang kurang baik dari medsos ini. Pembelajaran luar di kelas melalui FB pasti akan lebih menyenangkan dan peserta didik bisa lebih termotivasi karena alat/media yang digunakan sudah sangat familiar di kalangan mereka.

 

TRANSFORMASI PEMBELAJARAN DI ABAD 21

Pendidikan sebagai layanan belajar merupakan sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun peradaban. Penyelenggaran pendidikan yang berkualitas harus diwujudkan sebagai amanat Undang-Undang, karenanya pemerintah wajib menyediakan layanan pendidikan yang bermutu kepada seluruh rakyat. Pemerintah telah berupaya meningkatkan angka partisipasi dan pemerataan pendidikan. Berbagai program telah dicanangkan misalnya dengan Kartu Indonesia Pintar (KIP), pembaharuan kurikulum, pemberdayaan guru dan penyediaan tenaga pendidik berkompeten, penyediaan buku serta sarana pembelajaran, dan lain-lain. Di dalam Renstra Pendidikan Nasional juga telah menempatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai salah satu pendukung utama tersedianya layanan pendidikan.

Inovasi pendidikan melalui pemanfaatan TIK merupakan konsekuensi logis di era globalisasi seperti saat ini. Implementasi TIK sudah menjadi keharusan karena penerapan TIK dapat menjadi salah satu indikator keberhasilan suatu institusi pendidikan. Hasil penelitian secara nyata membuktikan bahwa penggunaan alat bantu berbasis TIK sangat membantu aktivitas proses belajar mengajar di kelas, terutama peningkatan prestasi belajar peserta didik.

Terkait dengan teknologi berbasis internet, menurut survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2014: 4-5), sebanyak 85% dari total pengguna internet di Indonesia mengakses internet dengan menggunakan mobile phone. Hasil ini ditemukan di setiap kepulauan di Indonesia, baik daerah rural maupun urban Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat pembelian dan penggunaan smartphone di Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan. Sementara bila dilihat dari kategori usia, mobile phone paling tinggi digunakan oleh mereka yang berusia 18-25 tahun, dan 60% di antaranya mengakses internet dari telpon selular. Hal ini mengindikasikan peluang yang sangat baik bagi perkembangan infrastruktur internet lebih baik dan merata di seluruh Indonesia.

Peluang dan potensi tersebut di atas harus direspon dengan sigap oleh para praktisi pendidikan. Apalagi dalam UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), konsep pembelajaran menurut Konsultan Pendidikan di Willi Toisuta and Associates, Yuli Kwartolo, adalah suatu interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (UU No.20 Tahun 2003, Pasal 1). Konsep mengenai pembelajaran ini melahirkan suatu model pembelajaran yang dikenal dengan pembelajaran berbasis aneka sumber. Pembelajaran berbasis aneka sumber memungkinkan siswa belajar dari siapa saja, dari mana saja, tentang apa saja (Yuli Kwartolo, 2010: 16).

Konsep dan Tujuan M-Learning dalam Pembelajaran

Dewasa ini, tidak sedikit guru/dosen yang memanfaatkan kemajuan teknologi dengan mengunakan internet sebagai pembelajaran online atau biasa kita dengar dengan e-learning. Tren baru dalam dunia e-Learning masa kini adalah dikenalnya istilah Mobile Learning (m-learning). Mobile Learning (M-Learning) didefinisikan oleh Clark Quinn (2006) yang dikutip Abdul Majid sebagai: “The intersection of mobile computing and e-learning: accessible resources wherever you are, strong search capabilities, rich interaction, powerful support for effective learning, and performance-based assessment. E-learning independent of location in time or space.”

Atas dasar definisi tersebut maka mobile learning merupakan model pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Pada konsep pembelajaran tersebut mobile learning membawa manfaat ketersediaan materi ajar yang dapat di akses setiap saat dan visualisasi materi yang menarik. Istilah M-Learning merujuk pada penggunaan perangkat genggam (media portable) seperti Smartphone, IPhone, PCTablet, PDA, Ponsel, Laptop dan perangkat teknologi informasi lainnya yang banyak digunakan dalam belajar mengajar.

Dalam kaitan tersebut, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di dalam dunia pendidikan terus berkembang dalam berbagai strategi dan pola, yang pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam sistem e-Learning sebagai bentuk pembelajaran yang memanfaatkan perangkat elektronik dan media digital, maupun m-learning sebagai bentuk pembelajaran yang khusus memanfaatkan perangkat dan teknologi komunikasi bergerak (Abdul Majid, 2012: 1).

Tujuan dari pengembangan m-learning ini adalah proses belajar sepanjang waktu (long life learning), siswa/mahasiswa dapat lebih aktif dalam proses pembelajaran, menghemat waktu karena apabila diterapkan dalam proses belajar maka siswa/mahasiswa tidak perlu harus hadir di kelas hanya untuk mengumpulkan tugas. Tugas tersebut cukup dikirim melalui aplikasi pada mobile phone yang secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas proses belajar itu sendiri. Penggunaan Mobile Learning sebagai penunjang proses belajar mengajar ini dipandang dapat menambah fleksibilitas dalam kegiatan belajar mengajar.

Pergeseran Paradigma Belajar di Abad 21

Untuk itu layanan utama berbasis TIK dalam program pendidikan yang sedang diimplementasikan melalui e-learning dan e-administrasi. Keduanya dirancang untuk peningkatan layanan pendidikan bagi pemangku kepentingan pendidikan, yang juga difokuskan untuk pengembangan profesional guru. Selain itu, Kemdikbud juga menetapkan target peningkatan kompetensi untuk guru inti di bidang rekayasa dan teknologi sebesar 100% dari jumlah guru inti yang ada di akhir tahun 2014 (Kemendikbud, 2010).

Guru juga perlu mengadopsi peran-peran baru sebagai pengguna teknologi (Butcher, 2011). Guru bertanggung jawab untuk menciptakan ruang bagi siswa untuk berkembang menjadi manusia Indonesia yang berkarakter dengan memanfaatkan TIK. Kapasitas guru untuk memanfaatkan TIK secara efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran menjadi krusial (Pustekkom, Kemendikbud 2012 dalam http://yana.staf.upi.edu/2015/10/11/pendidikan-abad-21/).

Melalui TIK tersebut di atas setting tempat, suasana pembelajaran, metode dan strategi pembelajaran, peran guru mengalami perubahan yang signifikan. Konsep mengenai pembelajaran di atas melahirkan suatu model yang disebut Yuli Kwartolo (2010: 6) sebagai pembelajaran yang dikenal dengan pembelajaran berbasis aneka sumber. Pembelajaran Berbasis Aneka Sumber (BEBAS) memungkinkan siswa belajar dari siapa saja, dari mana saja, tentang apa saja. Pembelajaran ini memungkinkan terciptanya suatu situasi pembelajaran yang “hidup” dan menarik. Belajar Berbasis Aneka Sumber (BEBAS) adalah suatu paradigma baru pada lapis pengalaman belajar.

Namun, hal terpenting yang mesti dirubah ialah paradigma lama yang sampai kini masih melingkupi praktik pendidikan kita. Yaitu, pengalaman belajar siswa yang masih memusat pada peran guru (teacher centered learning), seolah-olah tanpa guru tidak terjadi proses pembelajaran.

P21 (Partnership for 21st Century Learning) mengembangkan framework pembelajaran di abad 21 yang menuntut peserta didik untuk memiliki keterampilan, pengetahuan dan kemampuan dibidang teknologi, media dan informasi, keterampilan pembelajaran dan inovasi serta keterampilan hidup dan karir (P21, 2015). Framework ini juga menjelaskan tentang keterampilan, pengetahuan dan keahlian yang harus dikuasai agar siswa dapat sukses dalam kehidupan dan pekerjaanya (http://yana.staf.upi.edu/2015/10/11/pendidikan-abad-21/).

Sejalan dengan hal itu, Kemdikbud merumuskan bahwa paradigma pembelajaran abad 21 menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerjasama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah (Litbang Kemdikbud, 2013). Untuk menghadapi pembelajaran di abad 21, setiap orang harus memiliki keterampilan berpikir kritis, pengetahuan dan kemampuan literasi digital, literasi informasi, literasi media dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi (Frydenberg & Andone, 2011 dalam http://yana.staf.upi.edu/2015/10/11/pendidikan-abad-21/).

Itulah sebabnya, pendekatan dalam kurikulum 2013 diarahkan pada pembelajaran saintifik dengan 5 M [Mengamati (Observing), Menanya (Questioning), Mengumpulkan informasi/mencoba (Experimenting), Menalar/Mengasosiasi (Associating), dan Mengomunikasikan (Communicating)] sebagai karakteristik dominan dalam proses dan metodenya belajar peserta didik. Dengan demikian, diharapkan tahap perkembangan anak dapat terpupuk dan terkondisi secara baik dan optimal. Pada gilirannya nanti membentuk jiwa anak yang cerdas di bidang intektual dan emosional serta berkarakter (akhlak) terpuji.

Bentuk-bentuk pemanfataan teknologi informasi lainnya yang berkontribusi dalam menyiapkan pembelajaran abad 21 adalah pemanfaatan MOOCs (Goto, Batchelor, & Lautenbach, 2015), pembelajaran berbasis video game (Nino & Evans, 2015), pemanfaatan e-learning baik itu menggunakan LMS (learning management system) atau aplikasi pembelajaran lainnya (Tamimudin H, 2013), dan pemanfaatan mobile learning sebagai media pembelajaran dalam 5 kompetensi inti pembelajaran abad 21 (Lai & Hwang, 2014) (http://yana.staf.upi.edu/2015/10/11/pendidikan-abad-21/).

Sumber Bacaan Acuan:

-Admin. 2015. “Pendidikan Abad 21” dalam http://yana.staf.upi.edu/2015/10/11/pendidikan-abad-21/, diakses pada tanggal 31/1/2016, jam 07.10 WIB.
-Majid, Abdul. 2012. “Mobile Learning”, Makalah Prodi Pengembangan Kurikulum, Sekolah Pascasarjana (S3) UPI Bandung.
-Kwartolo, Yuli. 2010. “Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Proses Pembelajaran”. Jurnal Pendidikan Penabur. No.14/Tahun ke-9/Juni 2010.
-Puskakom UI dan APJII. 2015. Profil Pengguna Internet Indonesia 2014. Jakarta: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.
-Pustekkom. 2012. “Naskah Akademik Kerangka Kerja Kompetensi TIK untuk Guru”. Jakarta: Kemendikbud.
-Saputra, Andri., dkk. 2013. “Pengantar Teknologi Pendidikan”, dalam http://romidwisyahri95.blogspot.com, diakses tanggal 7/1/2016, jam 21:57 WIB.
-Ulansari, Lyna Ukti, dkk. 2015. “Inovasi Sekolah Berbasis Teknologi Informasi dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Kejuruan (Studi Pada Sekolah Menengah Kejuruan PGRI 3 Malang)”. Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 3, No. 11.

 

 

BERJEJARING MELALUI BLOG DALAM PEMBELAJARAN INTERAKTIF

Pada hakikatnya, teknologi informasi (TI) adalah proses untuk mendapatkan nilai tambah (added value). Dalam proses pembelajaran, penggunaan TI sangat membantu guru malaksanakan tugasnya. Di sisi lain dalam penyampaian menggunakan media, maka guru dapat menambah kemampuan untuk lebih kreatif dan produktif serta merubah orientasi kegiatan belajar mengajar dari guru sebagai sumber belajar ke arah orientasi belajar siswa aktif, dengan mencari informasi berbabagi sumber media dan memanfaatkan teknologi yang tersedia.

Dalam penelitian mengenai profil pengguna internet di Indonesia tahun 2012, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan penetrasi pengguna internet di Indonesia adalah 24,23% (APJII, 2012). Selanjutnya survey di tahun 2014 menunjukkan penetrasi pengguna internet di Indonesia adalah 34.9%. Hal ini menunjukkan penggunaan internet di Indonesia terus meningkat. Masih menurut survey tersebut, jumlah pengguna internet di Indonesia tahun mencapai 88 juta orang hingga akhir tahun 2014. Berdasarkan populasi, jumlah pengguna Internet terbanyak adalah di provinsi Jawa Barat sebanyak 16.4 juta, diikuti oleh Jawa Timur 12.1 juta pengguna dan Jawa Tengah 10.7 juta pengguna.

Dengan penetrasi internet yang semakin pesat, mau tidak mau seorang guru harus mempunyai alternatif pembelajaran kepada peserta didiknya. Hasil penelitian APJII mengkonfirmasi bahwa secara total mayoritas pengguna internet adalah kalangan usia 15-25 tahun (50%) dan yang menggunakan internet melalui telpon selular sebanyak 60% di usia (18-25 tahun). Fakta ini diperkuat dengan perkembangan telpon seluler dan smartphone yang menyediakan beragam fitur aplikasi media sosial (Social Media), antara lain facebook, instagram, twitter, LinkedIn, dan lain-lain.

Media Sosial dan Sejarah Ringkas WeBlog

Jika kita mencari definisi media sosial di mesin pencari Google, dengan mengetikkan kata kunci “social media meaning”, maka Google menampilkan pengertian media sosial sebagai “websites and applications used for social networking” –website dan aplikasi yang digunakan untuk jejaring sosial. Maksudnya adalah saluran atau sarana pergaulan sosial secara online di dunia maya (internet). Para pengguna (user) media sosial berkomunikasi, berinteraksi, saling kirim pesan, dan saling berbagi (sharing), dan membangun jaringan (networking).

Blog adalah kependekan dari Weblog, istilah yang pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada bulan Desember 1997. Dalam literatur online disebutkan, “On Dec. 17, 1997, Jorn Barger became the first person to use the term “weblog” to describe his collection of links logged from the internet.” Jorn Barger menggunakan istilah Weblog untuk menyebut kelompok website pribadi yang selalu diupdate secara kontinyu dan berisi link-link ke website lain yang mereka anggap menarik disertai dengan komentar-komentar mereka sendiri (http://www.romelteamedia.com/2014/08/sejarah-blog-penemu-istilah-dan-blogger.html)

Namun, “status” Barger sebagai blogger pertama “gugur” dengan ditemukannya fakta bahwa sebelumnya, pada Januari 1994, seorang mahasiswa yang kemudian jadi wartawan Amerika, Justin Hall, membuat website pribadi “Justin’s Home Page” yang kemudian berubah menjadi “Links from the Underground”. Kreativitasnya itu membuat Hall dikenal sebagai perintis blogger (pioneer blogger). Saat menjadi mahasiswa Swarthmore College, Justin membuat website pribadi “Justin’s Links from the Underground” yang berisikan daftar link.  Pada Desember 2004, New York Times Magazine menjuluki Justin Hall sebagai “pendiri blog pribadi” (the founding father of personal blogging). Bisa dikatakan, sebagai “kompromi”: Jorn Barger adalah penemu istilah blog dan Justin Hall merupakan blogger pertama.

Secara garis besar, Weblog dapat dirangkum sebagai kumpulan website pribadi yang memungkinkan para pembuatnya menampilkan berbagai jenis isi pada web dengan mudah, seperti karya tulis, kumpulan link internet, dokumen-dokumen (file-file Word,PDF,dll), gambar ataupun multimedia. Para pembuat blog dinamakan Blogger. Istilah blog dipopulerkan oleh Peter Merholtz tahun 1998. Pendiri Open Diary yang merupakan diary online para penulis di seluruh dunia yang kemudian juga memiliki layanan blog. Open Diary juga memberikan kontribusi besar dalam sejarah weblog dan blogging. Blog kian populer ketika Pyra Labs menghadirkan platform blog Blogger pada Juli 1999 yang diakuisisi oleh Google akhir tahun 2002. Setelah kemunculan Blogger, penyedia blog gratis lainnya bermunculan hingga saat ini, termasuk WordPress (http://www.romelteamedia.com).

Melalui Blognya, kepribadian Blogger menjadi mudah dikenali berdasarkan topik apa yang disukai, apa tanggapan terhadap link-link yang di pilih dan isu-isu didalamnya. Oleh karena itu Blog bersifat sangat personal. Perkembangan lain dari Blog, yaitu ketika Blog memuat tulisan tentang apa yang seorang Blogger pikirkan, rasakan, hingga apa yang dia lakukan sehari-hari. Blog kemudian juga menjadi Diary Online yang berada di Internet. Satu-satunya hal yang membedakan Blog dari Diary atau Jurnal yang biasa kita miliki adalah bahwa Blog dibuat untuk dibaca orang lain.

Saat media sosial seperti Facebook dan Twitter hadir, blog tetap bertahan. Bahkan, belakangan ini banyak portal berita (news portal) atau situs berita menggunakan blog sebagai basis pembuatan situsnya, berkat fasilitas “Custom Domain” yang disediakan blogger (http://www.romelteamedia.com).

Pemanfaatan Blog dalam Pembelajaran

Salah satu jenis media sosial yang populer dan dapat digunakan dalam pembelajaran adalah “blog”, yang telah berkembang pesat dan menjadi tren untuk pembelajaran berbasis blog. Ada beberapa kelebihan dari blog untuk di mamfaatkan sebagai media E-learning, yaitu: Pertama, pembuatan blog sangat mudah (mudah dipelajari); kedua, pengelolaan untuk update tulisan, materi, hapus dan sebagainya sangat mudah;  ketiga, tersedia gratis (wordpress, multiply.com, blgspot.com); dan keempat, mempunyai fasilitas mendekati Moodle. Menurut Dr. R. Teduh Dirgahayu dalam perkuliahan Teknologi Informasi Pembelajaran (4/1/2016), manfaat blog dapat memungkinkan penerapan pembelajaran secara mandiri, informal, kolaboratif, meningkatkan keterampilan komunikasi, membaca dan menulis, serta keterampilan berpikir dan refleksi.

Pandangan tersebut didasarkan pada artikelnya Silvia Tolisano yang berjudul “Blogging as Pedagogy: Facilitate Learning” (http://langwitches.org/blog/2014/06/03/blogging-as-pedagogy-facilitate-learning, June, 3 2014).  Hal ini dikarenakan area pembelajaran berbasis blog meliputi empat domain utama, yaitu: 1) Membaca (reading), 2) Menulis (writing), 3) Refleksi (reflecting), dan 4) Berbagi (sharing).

Dengan demikian, dalam pemanfaatan pembelajaran berbasis blog, guru harus juga terlibat dalam penyediaan konten yang bermanfaat dan up to date. Peran guru dalam membangun kultur pembelajaran melaui blog sangatlah penting. Motivasi setiap siswa untuk menuangkan gagasannya melalui blog tidaklah terlepas dari dukungan guru sebagai pengajar. Guru juga dapat mengarahkan diskusi dan komentar-komentar tentang materi atau tulisan yang sudah dibuat oleh para siswanya. Selain itu, guru juga dapat menyampaikan materi atau tugas melalui blog sehingga memudahkan penyebaran informasi.

Pemanfaatan media blog mestinya tidak hanya aksidental ketika ada kegiatan yang menghambat terjadinya interaksi langsung guru dan peserta didik di sekolah. Dalam lingkup Sekolah Menengah Kejuruan, biasanya ada program kegiatan prakerin (praktek kerja industri) atau PKL yang dilakukan siswa kelas XI. Siswa yang sedang prakerin tetap mendapatkan materi dan tugas terstruktur dari guru, padahal siswa yang prakerin biasanya tersebar di beberapa daerah yang lokasinya jauh dari sekolah. Beberapa kendala misalnya, untuk mengumpulkan tugas-tugas saja harus on the spot datang ke sekolah menemui guru. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan media pembelajaran elektronik berbasis blog untuk kemudahan peserta prakerin.

Blog memberikan sebuah peluang agar kegiatan belajar lebih menarik dan interaktif. Melalui blog, sumber-sumber materi yang relevan dapat dipublikasikan ke seluruh penjuru sehingga bisa diakses oleh siapa pun. Dengan begitu, kesulitan siswa dalam mengumpulkan sumber-sumber informasi yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran dapat diatasi. Sehingga tidak berlebihan kiranya, blog merupakan salah satu media pembelajaran yang strategis untuk meningkatkan proses pembelajaran yang aktif dan interaktif.

LMS Berbasis Moodle sebagai Media E-Learning di Sekolah

Oleh: A. Amali Kurniawan

Di dunia pendidikan dan pelatihan sekarang, banyak sekali praktik yang disebut e-learning. Penggunaan e-learning di dunia akademis di Indonesia telah digunakan secara luas dan massif. Misalnya Universitas Terbuka (UT) yang menyediakan beberapa tutorial online, Institut Teknologi Bandung (ITB) telah menawarkan sejumlah pelajaran online melalui Open Learning System (OLSys). Universitas Petra, UGM, UBINUS, dan Universitas Pelita Harapan juga telah memberikan pula beberapa pelajaran dalam bentuk e-learning (Effendi & Hartono, 2005: 5-6). Contoh lainnya, di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, e-learning diterapkan kuliah online melalui Klasiber, yaitu sistem e-learning UII sebagai portal akademik utama bagi mahasiswa. Klasiber mulai digunakan di tingkat universitas sejak tahun 2005 dengan memanfaatkan Moodle (perangkat lunak e-learning open-source) yang sudah mengalami banyak pengembangan hingga sekarang.

Kemendiknas dengan diprakarsai Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) sudah mengembangkan dan menyiapkan e-learning dengan membangun wireless area network (WAN) sebagai jaringan luas di sekolah-sekolah tertentu sekitar ICT Center. Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (Pustekkom) Depdiknas mengeluarkan beberapa mata pelajaran yang berbentuk multimedia, yang ditujukan terutama untuk pelajar SMU dan sederajat. Pustekkom telah meluncurkan e-dukasi.net yang bermaksud memberikan materi pelajaran bagi siswa dan guru secara gratis (Effendi & Hartono, 2005: 6). Untuk mengintegrasikan kedua program tersebut agar terbentuk sebuah jaringan yang menghubungkan semua sekolah di Indonesia diluncurkan program Jardiknas (Jejaring Pendidikan Nasional). Sehingga diperkirakan di masa depan semua sekolah di Indonesia akan terkoneksi dengan internet. Melihat program pengembangan yang dilakukan Depdikbud hingga saat ini kita bisa memanfaatkan fasilitas tersebut karena bersifat terbuka.

Konsep e-Learning, LMS, dan Blended Learning

Banyak istilah yang memiliki arti yang hampir sama dengan e-learning, di antaranya: Web-based learning, online learning, computer-based trainin/learning, distance learning, computer aided instruction, dan lain sebagainya. Terminologi e-learning sendiri dapat mengacu pada semua kegiatan pelatihan/pembelajaran yang menggunakan media elektronik atau teknologi informasi.

LMS (Learning Managemen System) merupakan salah satu aplikasi e-learning berbasis web yang fokus perhatiannya ada pada perolehan resources (konten/materi pembelajaran), baik pada jadwal perolehan, sumber resources, maupun tata cara perolehannya. Menurut sebuah situs (http://www.e-learningconsulting.com/products/learning-management-system.html) LMS adalah sebuah perangkat lunak yang mengelola administrasi, dokumentasi, pelacakan, dan pelaporan program-program pelatihan, kelas dan kegiatan onlinee-learning program, dan isi pelatih. Menurut Wahono, LMS atau platform e-Learning atau Learning Content Management System (LCMS) adalah aplikasi yang mengotomasi dan mem-virtualisasi proses belajar mengajar secara elektronik (http://romisatriawahono.net).

LMS sebagai salah satu perangkat media untuk berinovasi dalam pembelajaran dikenal sebagai Blended e-Learning. Secara sederhana, konsep Blended Learning ialah pencampuran model pembelajaran konvensional dengan belajar secara online. Teori belajar yang digunakan pun terdiri atas berbagai teori belajar dari beberapa ahli dengan menyesuaikan situasi dan kondisi belajar peserta didik. Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanya berfungsi sebagai mediator, fasilitor  dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik. Blended Learning ini akan memperkuat model belajar konvensional melalui pengembangan teknologi pendidikan.

Urgensi Pemanfaatan LMS  di Lingkup Sekolah

Penggunaan LMS dalam praktik pendidikan, khususnya pada satuan pendidikan menengah sangat banyak manfaatnya, di antaranya adalah menyediakan akses langsung, mengurangi biaya pengiriman per course, menghemat waktu bekerja, dan memberikan pelatihan yang lebih konsisten. Melalui pemanfaatan LMS, apabila memiliki banyak materi pelajaran e-learning, kita tidak perlu meletakkannya pada layar desktop komputer dalam bentuk icon. Dengan LMS sebagai sistem yang mengatur e-learning content atau mata pelajaran e-learning, maka proses pembelajaran dapat dilakukan secara lebih efektif. LMS inilah yang berperan banyak dalam membantu administrasi kegiatan pelatihan (belajar-mengajar) yang menerapkan e-learning. Begitu pentingnya hingga John Chambers, CEO dari Cisco System, menyatakan: “If course content is king, then infrastructure (LMS) is god” (Effendi & Hartono, 2005: 6).

Dalam suatu sesi kuliah Teknologi Informasi Pembelajaran bersama mahasiswa konsentrasi Supervisi Pendidikan Agama Islam PPs MSI UII (2/11/2015), Dr. R. Teduh Dirgahayu menjelaskan, pelaksanaan pembelajaran LMS tipe Blended e-Learning tidak terbatas di satu sekolah dan di dalam ruang kelas. Sekolah berfokus pada aktivitas sosialisasi dan peserta didik dapat mengulang pelajaran dengan kecepatan masing-masing. Namun e-learning dengan spesifikasi ini perlu keterlibatan dan supervisi orang tua. Melalui LMS secara baik dan intensif, peserta didik dapat melihat nilai tugas dan tes serta peringkatnya berdasarkan nilai tugas maupun tes yang diperoleh. Selain itu, pelajar dapat melihat modul-modul yang ditawarkan, mengambil tugas-tugas dan tes-tes yang harus dikerjakan, serta melihat jadwal diskusi secara maya dengan instruktur, narasumber lain, dan siswa lain.

Untuk mengembangkan e-Learning, saat ini telah tersedia banyak LMS, baik yang komersial ataupun yang bersifat Open Source (gratis). Beberapa LMS yang komersial adalah ANGEL Learning, Apex Learning, Blackboard, Desire2Learn, eCollege, IntraLearn, Learn.com, Meridian KSI, NetDimensions_EKP, Open Learning Environment (OLE), Saba Software, SAP Enterprise Learning, dan lainnya. Contoh LMS yang bersifat Open Source adalah Atutor, Claroline, Dokeos, dotLRN, eFront, Fle3, Freestyle Learning, ILIAS, KEWL.nextgen, LON-CAPA, MOODLE, OLAT, OpenACS, OpenUSS, Sakai, Spaghetti Learning, dan lainnya.
Secara umum, LMS menyediakan fitur standar untuk e-learning, di antaranya: (1) Fitur untuk materi pembelajaran, meliputi daftar pelajaran dan kategorinya, silabus, materi pelajaran (berbasis teks atau multimedia), serta bahan pustaka; (2) Fitur untuk diskusi dan komunikasi, meliputi forum diskusi (mailing list), instant messenger, pengumuman, profil dan kontak instruktur, serta File and Directory Sharing; dan (3) Fitur untuk ujian dan tugas, meliputi ujian (exam), tugas (assignment), dan penilaian.

Sebagaimana disinggung terdahulu, LMS tersedia dalam berbagai macam pilihan penyedia layanan. Untuk memanfaatkan LMS di sekolah dapat menggunakan vendor yang menyedikan engine untuk membuat sebuah website E-learning, salah satunya adalah Moodle (Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment). Moodle adalah paket perangkat lunak yang diproduksi untuk kegiatan belajar berbasis internet dan situs yang menggunakan prinsip social constructionist pedagogy. Moodle merupakan salah satu LMS open source yang dapat diperoleh secara bebas melalui http://moodlecloud.com. Sebagai portal e-learning, Moodlecloud dapat dengan mudah dipakai untuk mengembangkan sistem e-learning dan dimodifikasi sesuai kebutuhan. Menurut salah satu sumber, di Indonesia terdapat lebih dari 594 situs e-learning yang dikembangkan dengan Moodle.

Namun demikian, salah seorang Wisyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jateng, Abimanyu mengkritisi penerapan e-learning (LMS) berbasis moodle di sekolah. Menurutnya, ada beberapa kelemahan dari moodle yang mungkin membuat perkembangan website E-learning agak kurang. Banyak pembuatan E-learning berbasis moodle hanya sampai pada tahap sebuah website tersebut online. Tetapi dengan segudang fasilitas yang dimiliki moodle, pengelola tidak mampu untuk meng-update isi dari pembelajaran. Moodle mungkin cocok untuk seorang dosen atau instruktur dengan kemampuan TIK tingkat menengah ke atas. Akan tetapi, bagi seorang guru mata pelajaran bukan TIK, untuk mempelajari cara kerja moodle akan kesulitan. sehingga nantinya jangankan untuk mengisi dengan berbagai materi pembelajaran untuk mengelola saja seorang guru sudah sangat kesulitan (http://www.lpmpjateng.go.id/).

Meski demikian, sebetulnya banyak cara mudah yang ditawarkan berbagai referensi/situs untuk memanfaatkan LMS berbasis moodle di sekolah, antara lain dengan langkah praktis dari http://www.umboh.org/2012/06/cara-membuat-website-sekolah-dengan.html. Dalam upaya implementasi LMS berbasis Moodle di sekolah secara efektif diperlukan komitmen, perencanaan yang matang, anggaran yang memadai, dan dukungan manajemen, infrastruktur serta segenap warga sekolah. Dan yang tidak kalah penting ialah pembinaan dan peningkatan soft skill Guru di bidang TIK, khususnya aplikasi e-learning dengan moodle. Di samping itu, peserta didik dan orang tua/wali siswa pun harus diberikan orientasi dan pemahaman khusus terkait dengan renacana ini sebagai tanggapan terhadap potensi pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran. Semoga bermanfaat.

Teknik Supervisi

Decentralized Basic Education 3 (DBE3) yang didanai USAID, mempersembahkan good practice film Pendampingan Pembelajaran oleh Pengawas Sekolah.

Suasana supervisi kunjungan kelas saat proses pembelajaran.

Pendampingan pasca pembelajaran harus dilakukan pengawas agar dapat membantu dan memberikan solusi kepada guru yang telah disupervisi agar dapat memperbaiki dan meningkatkan kemampuan mengajarnya.

Tugas MID

Secara umum, macam-macam teknologi informasi yang telah digunakan di Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Dlingo, dimana merupakan pemanfaatan media berbasis komputer untuk kepentingan meningkatkan kualitas pembelajaran, antara lain melalui:  akses Free hotspot/ WIFI (sejak tahun 2012 kerjasama dengan provider Telkom dengan Bandwidth 512 Mbps) dan koneksi internet, Penugasan On-Line (e-mail), komputer (PC/laptop), LCD Projector, presentasi PowerPoint, serta Modul Interaktif, Video, dan CD pembelajaran (misalnya: Bahasa Inggris, Fisika dan Kimia, Al-Qur’an Digital). Bahkan di tahun 2015 ini, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dilakukan secara online.

Di samping itu, merujuk pada definisi TIK, fasilitas/peralatan yang digunakan di sekolah untuk mendapatkan suatu informasi yang dibutuhkan melalui media elektronik maupun cetak, adalah sebagai berikut: (1) Flash disk; (2) Printer; (3) TV; (4) Radio; (5) Media Cetak (SKH Kedaulatan Rakyat dan Tribun Jogja); (6) Telephone, (7); Handy-Talky; (8) Kamera digital; (9) Handycame; (10) Handphone/Smartphone; dan (10) Kalkulator, serta seperangkat media praktikum TAV. Fasilitas sarana penunjang lain yang sebetulnya penting, namun sampai kini di sekolah ini belum memilikinya adalah Faximile, Laboratorium Komputer, dan Lab. Bahasa